Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

Dalam hidup kita tidak selalu me­lakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dan sederhana dengan KASIH yang besar. Demikian tulis Mother Theresa dari Calcuta. Dan KASIH itu harus ditunjukkan melalui pelayanan yang nyata.

Namanya tak terkenal. Tak setenar Danau Sentani atau Tigi. Tak banyak orang mengetahui keberadaannya. Ia seolah tenggelam di tengah kayanya alam Papua. Tetapi ia menyimpan pesona dan manfaat amat besar.

Jamor Fata. Begitu nama danau itu. Letaknya sangat terpencil di pedalaman Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Ia diapit bukit-bukit bebatuan yang menju­lang tinggi di sekelilingnya. Ratusan tahun, danau yang kaya dengan habitat air itu membungkus dirinya dengan jubah hutan dan awan tebal.

Tak pernah disangka sebelumnya, jika Tim Baliem Mission Center (BMC) dan Baliem Medical Center, akan melayani hingga Rambakulu. Kasih Tuhan benar-benar ajaib.

Jayapura mendarat dengan sempurna di Bandara Sultan Hasanudin Makassar sekitar pukul 10.30 WIT. Hari itu, Jumat 29 Juni 2012. Saya bersama teman-teman dari Tim Baliem Medical Center, sehari sebelumnya telah terbang meninggalkan homebase kami di Wamena. Kami adalah rombongan pertama dalam misi pelayanan ke Rambakulu, terdiri dari Pdt. John Jonathan Nap, Adi Wetipo, Alex Tabuni, Marcelo Edoway, Ester Caroline Nap, Ollin Nap, Merry Yeimo dan saya sendiri. Sementara rombongan kedua berangkat beberapa hari sesudahnya.

Saya seorang perawat yang bertugas di RSUD Wamena. Bergabung dengan Tim Baliem Mission Center (BMC) dalam pelayanan adalah sebuah anugerah terindah.

Pagi itu, Selasa 31 Juli 2012. Kota Wamena di Lembah Baliem sedikit cerah berawan. Bersama Tim Baliem Mission Center (BMC) lainnya yakni dr. Roland Lalo ditemani pilot Erwin, sekitar pukul sepuluh, kami terbang dengan pesawat Helivida dari Wamena menuju Nabire.

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk DIA.’’ (Filipi 1:29)

Ini sungguh-sungguh sebuah kisah nyata yang dialami Tim BMC pasca Tour Esrotnamba Satu, Juli 2012 lalu.  Hanya semalam kami berada di kampung Orainamba. Adapun tokoh kunci dalam tour ini adalah Pdt. Petrus Giyai yang sudah malang melintang dalam melayani orang-orang Suku Mairasi di Esrotnamba, Orainamba, dan sekitarnya.

Bertahun-tahun terlibat dalam program penginjilan telah membawa saya untuk membangun relasi dengan ribuan orang yang memiliki komitmen untuk Ladang Tuhan. Namun bukan berarti saya tidak mendapat penolakan dari sejumlah orang dengan aneka macam dalih.

Penyakit kaskado sudah menyejarah di Bumi Cenderawasih. Ia menyerang seluruh kulit tubuh manusia, membuat tak elok dipandang.

Dalam pelayanan kesehatan gratis kepada Suku Mairasi di Dusun Esrotnamba, Kabupaten Kaimana pada akhir Juli 2012 lalu, saya bersama Tim Baliem Medical Center menemukan seorang ibu yang menderita penyakit jamur dermatofitosis pada kulit atau di Papua  lebih dikenal dengan kaskado.

 

Malaria adalah pe­nyakit me­nu­lar yang di se­­babkan oleh parasit (prozoa) dari genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles.
Istilah malaria diambil dari dua kata bahasa Italia, yaitu mal (= buruk) dan area (= udara)  atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk.

Sekolah Tinggi Teologi (STT) GKII Levinus Rumaseb berkomitmen bekerja sama dalam pelayanan kemanusian bersama Baliem Mission Center (BMC) di daerah pedalaman Papua yang belum terjangkau.

Sebagai bentuk komitmen kerjasama tersebut, STT GKII Levinus Rumaseb mengirimkan dua orang mahasiswanya yakni Aletimin Yikwa dan Oten Tabuni untuk melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di dusun Esrotnamba. Rencananya, kedua mahasiswa itu akan berada di dusun tepian Danau Jamor Fata, Kabupaten Kaimana itu selama setahun.

Transportasi udara menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi masyakat di kabupaten-kabupaten Pegunungan Tengah Papua. Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya menjadi pintu masuk.

Sayangnya, minimnya maskapai penerbangan yang beroperasi ke kabupaten-kabupaten Pegunungan Tengah tidak sebanding jumlah masyarakat yang memakai jasa penerbangan. Akibatnya, masyarakat kecil sulit mendapatkan tiket, saat terjadi musim lonjakan penumpang. Praktek-praktek percaloan tiket pun tumbuh subur. Harga tiket melambung tak terjangkau.

Bukan lagi stigma. Wilayah Pegunungan Tengah Papua merupakan wilayah paling tertinggal di Provinsi Papua dan Indonesia dari berbagai aspek. Butuh keseriusan ABPT untuk mengejar ketertinggalan ini.

Pasca dipilih secara aklamasi sebagai ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua (ABPTP) 8 Agustus lalu, sejumlah tugas dan agenda menanti John Wempi Wetipo, S.Sos.M.Par. Wetipo bersama para bupati kabupaten se-Pegunungan Tengah Papua pun langsung bergerak cepat melakukan konsilidasi guna merealisasi sejumlah tugas dan agenda tersebut.

Papua adalah produk atlit. Itu sudah menjadi ikon. Prestasi demi prestasi telah diukir anak Papua di pentas nasional dan internasional. Sayang sekali, pada PON Riau tahun ini, kebanggaan itu tinggal sejarah.

Pekan olah raga (PON) XVIII yang digelar dari tanggal 9 hingga 20 September 2012 di Provinsi Riau, Sumatera telah berakhir. Pesta olahraga multi cabang terakbar di tanah air itu akhirnya menabhiskan Provinsi DKI Jakarta sebagai juara umum dengan torehan 110 medali emas, 101 perunggu dan 112 perunggu.
Hasil manis bagi DKI Jakarta ini mengembalikan mereka sebagai penguasa dan selalu berjaya di PON, setelah pada PON XVII tahun 2008 silam di Kalimantan Timur direbut Jawa Timur.

Saya berasal dari keluarga miskin, terpencil dan menderita. Saudara-saudara saya banyak meninggal karena penyakit. Saya tidak ingin generasi Papua mengalami nasib serupa.

Mobil Ford hitam nomor polisi DS 5704 AE itu berhenti tepat di depan IGD RSUD Abepura. Pintu kiri terbuka. Seorang lelaki paruh baya dengan tampilan batik Papua coklat, tiba-tiba turun dan langsung berjalan menuju ruang yang telah dipenuhi antrian pasien. Hari itu, Selasa, 18 September 2012. Jarum jam di tangan masih menunjukkan Pukul 08.00 waktu Papua.