Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

Pagi yang dingin. Lembah Baliem ber­kabut dan diguyur hujan. Sambil me­nikmati berita pagi di televisi, saya coba membuka lembar demi lembar Majalah Lani edisi dua. Ada banyak perubahan dan kemajuan yang patut diapresiasi. Tim redaksi sudah bekerja keras dan berbenah sana sini, baik dari sisi kualitas berita dan rubrikasinya yang lebih variatif maupun tampilan yang kian ekslusif.

Isu Antikris yang menunggangi program e-KTP mengemuka di Papua. Benarkah adanya?

Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupa­ten Jayawijaya pagi itu terlihat cukup ramai. Para pegawai tampak sibuk melayani masyarakat yang mengurus kartu tanda penduduk (KTP) elektronik atau yang dikenal dengan e-KTP. Mereka datang mengambil e-KTP sesudah melakukan proses pere­kaman beberapa bulan lalu.

Target capaian perekaman e-KTP di Papua masih rendah. Apakah ini akibat isu 666 atau Antikris?

Meskipun Kementerian Dalam Negri menargetkan agar semua penduduk Indonesia pada 31 Desember mendatang menggunakan KTP elektronik atau yang dikenal dengan sebutan e-KTP, ternyata di Provinsi Papua, target tersebut nampaknya belum bisa terealisasi.

Kasih Tuhan memang luar biasa. Kami berkesempatan untuk melayani saudara-saudari seiman di Vanimo, PNG.

Undangan dari PNG Bible Church di Vanimo sudah lama diterima oleh Baliem Mission Center (BMC).  Namun ka­rena berbagai kesibukan pelayanan dalam negeri maka kami baru bisa berkesempatan mengunjungi mereka pada tanggal 25-28 Agustus 2012 yang lalu. Manajemen BMC me­minta saya untuk mempersiapkan tim pelayanan ke negara tetangga ini. Saya pun memutuskan untuk membawa Marthen Medlama, Alex Tabuni, Yesaya Penggu, Otis Inggibal, Dolly Tabuni, Atius Yikwa, dan Alfrida Asso. Dengan bermodalkan undangan dari gereja di PNG kami menuju perbatasan PNG-RI di Wutung dengan menggunakan dua mobil Avanza.

Saya tak pernah menduga bertugas di Papua. Apalagi di Puncak Jaya yang masih terpencil.

Sekitar sepuluh tahun lalu, tepatnya di tahun 2002, setelah menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (Unkrida) Jakarta, saya pun mengikuti program sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Departemen Kesehatan (Depkes) RI. Tak pernah terpikir di benakku, bahwa saya akhirnya mendapat tugas di Kabupaten Puncak Jaya, sebuah kabupaten terpencil di Pegunungan Tengah Papua.

Rumah paling nyaman dalam hidup adalah hati yang mengasihi dan tangan yang melayani…

Mungkin Anda masih i­ngat musibah kekeringan ber­ke­panjangan yang menim­pa wilayah Pegunungan Tengah Pa­pua pada sekitar Oktober 1997? Ya, pada masa tersebut terjadi bencana kelaparan hebat yang me­nimpa hampir seluruh wilayah Pegunungan Tengah Papua. Bencana ini tak hanya merenggut korban nyawa, tetapi juga berdampak pada pe­ngungsian besar-besaran penduduk dari wilayah pegunungan menuju Kota Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya.

Mama-Mama Pedagang Asli Papua adalah tulang punggung keluarga. Kini mereka sudah mendapatkan pasar khusus, walau sementara.

Setelah bertahun-tahun berjuang melalui berbagai aksi demonstrasi, akhirnya kerinduan Mama-Mama Pedagang Asli Papua untuk memiliki pasar khusus, terpenuhi. Sekalipun masih sementara, Pasar Khusus Mama-Mama Papua yang terletak di eks kantor Badan Informasi dan Komunikasi Daerah (Bikda) Jalan Percetakan, Kota Jayapura ini memberi geliat semangat berdagang para Mama Papua.

Angka penderita HIV-AIDS di Papua kian tinggi. Butuh kerjasama semua pihak untuk melawannya.

Sudah menjadi perbincangan umum bahwa HIV-AIDS adalah pe­­nyakit mematikan yang akhir-akhir ini banyak diderita oleh kala­ngan usia produktif di Papua. Tetapi apa sesungguhnya HIV-AIDS itu?

Kegiatan akbar Raimuna X berlangsung sukses di Kota Jayapura. Banyak kesan mendalam dibawa para peserta dari luar Papua.

Hujan deras mengguyur Kota Sentani hingga Jayapura sejak pagi dini hari, Rabu, 10 Oktober 2012. Kendati demikian, semangat anak-anak SD yang ber­baris di pinggir jalan protokol Sentani tak pudar. Dengan tubuh basah berbalut pakaian pramuka dan setangkai bendera merah putih di tangan masing-masing, mereka melambai-lambaikan tangan ketika mobil Wakil Presiden RI, Boediono dan rombongannya, beriringan keluar dari Bandara Sentani menuju Jayapura sekitar Pukul 09.00 WIP.

Tak disangka, kenakalan masa kecil menjadi inspirasi. Dari tukang usil di lapter hingga jadi pilot.

Sederhana dalam penampilan, ramah dan murah senyum. Itulah kesan pertama Majalah Lani saat bertemu dengan lelaki bernama Denny Yigibalom di Ramayana Mall, Abepura, Sabtu 3 November 2012. Dengan kaos T-Shirt kuning dan sebuah topi menutup kepalanya, pilot muda Papua yang energik dan potensial ini meluangkan waktu untuk berbagi kisah pengalamannya.

Puncak Carstensz berada di daerah tropis. Diselimuti salju abadi, berketinggian ± 4.884 meter dpl.

Puncak Carstenz terletak di wilayah Pegunungan Tengah Papua yang masuk dalam tiga wilayah kabupaten yakni Mimika, Jayawijaya dan Puncak Jaya. Lokasi wisata dunia sangat fenomenal yang terdaftar sebagai salah satu dari tujuh puncak benua (seventh summit) ini menjadi incaran para pendaki gunung di berbagai belahan dunia. Letaknya di daerah tropis dengan salju abadi menjadi daya tarik tersendiri.

Kontingen PEPARNAS Papua tahun ini mampu meraih posisi 4. Obat bagi prestasi Tim PON yang cacat.

Setelah Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Riau yang berakhir 20 September 2012, dua pekan kemudian, tepatnya 7-13 Oktober 2012, di tempat yang sama digelar Pekan Paralympik Nasional (PEPARNAS) XVI. Peparnas adalah even olahraga bagi para penyandang cacat. Pada even empat tahunan, Provinsi Papua mengirim 92 anggota kontingennya.

Menjadi Sekda termuda di Provinsi Papua. Sebuah prestasi yang patut menginspirasi anak-anak muda Papua.

Lelaki paruh baya itu terlihat sibuk. Sebuah handphone Blackberry warna hitam sedang menempel di teli­nga kanannya. Terde­ngar pem­bica­raan serius dengan seseorang di seberang. Majalah Lani yang menepati janji untuk bertemu di sore itu, harus menunggunya beberapa menit. “Maaf, ada telpon mendadak. Ada konsultasi dari staf,” kata pria bernama lengkap  Yuni Wonda, S.Sos, SIP, MM.